jogja.jpnn.com, YOGYAKARTA - Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sri Sultan Hamengku Buwono X melontarkan kritik tajam terhadap pola memasak dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dinilai menjadi penyebab utama maraknya kasus keracunan massal di wilayahnya.
Sultan menilai penyebab keracunan tersebut tidak rumit dan bisa ditelusuri dari logika sederhana terkait waktu memasak dan konsumsi.
"Sebetulnya enggak rumit mencari (sebab) kenapa keracunan, enggak usah menggunakan orang kimia. Masaknya jam setengah 2 pagi, dimakan jam 8, ya, sudah pasti wayu (basi)," ujar Sultan di Yogyakarta, Jumat (26/9).
Kritik ini disampaikan Sultan menanggapi laporan keracunan massal yang telah menimpa ratusan siswa di Sleman, Kulon Progo, dan Gunungkidul.
Mengacu pada pengalamannya selama empat tahun membuka dapur umum saat bencana erupsi Gunung Merapi, Sultan menyebut bahwa risiko keracunan muncul ketika makanan, terutama sayur, dimasak terlalu dini dan baru dikonsumsi beberapa jam kemudian.
Menurutnya, pola memasak yang tidak tepat ini harus segera diubah agar kasus serupa tidak terulang.
"Korban itu tidak akan berkurang selama pola masak tidak berubah," kata Sultan.
Kapasitas Katering Jadi Akar Masalah
Selain itu, Sultan mengidentifikasi akar masalahnya terletak pada pesanan yang seringkali melampaui kapasitas produksi katering. Hal ini memaksa penyedia jasa untuk memulai proses memasak jauh lebih awal dari seharusnya.



















































