jogja.jpnn.com, YOGYAKARTA - Suasana haru menyelimuti Rumah Duka Arimatea, RS Bethesda, Kota Yogyakarta. Sejumlah aktivis dan kawan seperjuangan tampak memadati ruangan untuk memberikan penghormatan terakhir kepada Johnsony Maharsak Lumban Tobing atau John Tobing, yang wafat pada Rabu (25/2).
Pencipta lagu legendaris "Darah Juang" itu mengembuskan napas terakhirnya pada usia 59 tahun, meninggalkan warisan semangat yang tak lekang oleh waktu bagi gerakan mahasiswa di Indonesia.
Bagi para aktivis, nama John Tobing identik dengan lagu "Darah Juang", sebuah "himne" yang wajib dikumandangkan dalam setiap aksi demonstrasi.
Dadang Yuliantoro, salah satu rekan seperjuangan almarhum, mengenang bahwa lagu tersebut bukan sekadar gubahan musik biasa.
"Lagu itu sebetulnya adalah endapan dari seluruh pengalaman dan kesaksian John terhadap kekuasaan," ungkap Dadang saat ditemui di Rumah Duka.
Menurutnya, "Darah Juang" lahir dari kemarahan John melihat penindasan yang menimpa rekan-rekannya pada masa lalu, tetapi tetap menyimpan harapan akan masa depan yang lebih baik.
“Jika menyanyikan (Darah Juang) bayangkan bagaimana John ada rasa marah, ada juga cita-cita dan harapan di situ. Tentu ada kerinduan pada keadaan yang baik," katanya.
Pihak keluarga yang diwakili oleh sang adik, Joshua Tobing, mengaku sangat terharu melihat besarnya solidaritas dari kawan-kawan mendiang. Kepedulian tersebut sudah terlihat sejak John pertama kali dilarikan ke ruang ICU.

















































