jogja.jpnn.com, YOGYAKARTA - Puncak rangkaian Prambanan Shiva Festival 2026 berakhir dengan khidmat dan magis. Untuk pertama kalinya di Indonesia, ritual suci Mahashivaratri digelar secara besar-besaran di Lapangan Wisnu, Kompleks Candi Prambanan, Minggu (15/2) malam hingga Senin dini hari.
Acara ini ditandai dengan penyalaan 1.008 dipa (pelita) serta dentuman damaru (alat musik kecil Dewa Shiva) yang menggema di bawah bayang-bayang candi Hindu terbesar di Indonesia tersebut.
Ketua Tim Pemanfaatan Candi Prambanan I Nyoman Ariawan Atmaja mengatakan bahwa momen ini bukan sekadar seremoni, melainkan upaya mengajak umat untuk bangun dari "tidur spiritual".
"Mahashivaratri adalah momen pemujaan kepada Dewa Shiva sebagai Sang Pelebur dan sumber kesadaran tertinggi. Bunyi damaru yang mengiringi ritual melambangkan panggilan bagi individu untuk melepaskan beban masa lalu dan lahir kembali dengan bijaksana," ujar Nyoman.
Perayaan tahun ini tampil beda dengan memadukan unsur tradisi nusantara dan teknologi modern.
Ada Parade Budaya Maha Gangga Tirta Gamana, merupakan prosesi membawa air suci dari 36 provinsi dan sembilan candi nusantara yang telah disucikan oleh 35 Sulinggih. Penyatuan air ini menjadi simbol harmoni semesta dan pembersihan diri.
Ada pula Abhisekam Berkelanjutan, ritual penyucian candi yang dilakukan secara bertahap, mulai dari puncak ritual hingga Abhisekam 5 yang berlangsung hingga fajar menyingsing.
Sebanyak 1.008 dipa dinyalakan serentak, menciptakan suasana magis. Keindahan visual semakin diperkuat dengan teknologi video mapping yang membalut relief candi dengan cahaya artistik.















































