jpnn.com, JAKARTA - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) membawa dampak masif bagi jutaan anak Indonesia.
Tidak sekadar menjadi solusi pemenuhan gizi di sekolah, program ini dirancang sebagai program strategis pemerintah untuk mengurai permasalahan struktural ekonomi keluarga rentan yang berimbas pada permasalahan stunting.
“Masalah stunting di Indonesia layaknya fenomena gunung es yang memiliki akar multidimensional mulai dari, asupan makan, ekonomi (keluarga), hingga buruknya sanitasi yang memicu infeksi berulang pada anak,” ujar Ahli Gizi IPB sekaligus Dewan Pengurus Pusat Himpunan Alumni IPB Departemen Gizi Lesda Lybaws, M.Gz.
Lesda sepakat bahwa MBG adalah wujud nyata investasi jangka panjang negara yang langsung menyentuh akar permasalahan di masyarakat.
Menurutnya, MBG secara komprehensif memotong rantai permasalahan yang berlarut-larut tersebut. Kini, program MBG tidak hanya menyasar anak usia sekolah, namun juga telah mencakup sasaran 3B, yakni balita, ibu menyusui (Busui), dan ibu amil (Bumil) guna menyasar periode emas 1.000 Hari Pertama Kehidupan.
Senada dengan pendapat Lesda, di balik narasi pemberian makan siang, MBG juga sejatinya hadir sebagai jembatan untuk mengatasi kerentanan ekonomi keluarga.
Direktur Pengendalian Kerawanan Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas) Dr. Tri Nuryanti mengungkapkan bahwa saat ini masih terdapat 81 kabupaten/kota yang rentan rawan pangan. Di wilayah-wilayah tersebut, keluarga prasejahtera kerap harus mengalokasikan minimal 65 persen dari total pendapatan mereka hanya untuk belanja pangan.
"Ketika ada jembatan keterjangkauan bernama MBG, beban pengeluaran pangan orang tua otomatis berkurang secara drastis. MBG ini sangat efektif untuk menangani kerawanan pangan sekaligus menaikkan taraf ekonomi keluarga, karena sisa pendapatan mereka kini bisa dialihkan untuk kebutuhan pendidikan atau kesehatan lainnya," papar Dr. Tri Nuryanti.






















































