jateng.jpnn.com, SEMARANG - Wacana Pemerintah Provinsi Jawa Tengah untuk menerapkan enam hari sekolah dalam sepekan mendapat dukungan dari Anggota DPD RI asal Jateng Abdul Kholik.
Dia menilai konsep lima hari sekolah yang selama ini diterapkan bukan lahir dari dunia pendidikan, melainkan dari kultur perburuhan.
Kholik mengingatkan sistem lima hari kerja muncul dari sejarah industri Amerika Serikat yang kala itu penuh tuntutan buruh.
“Itu konsep ketenagakerjaan, bukan pendidikan. Dua sektor ini punya logika berbeda,” ujarnya di Semarang, Kamis (27/11).
Menurutnya, pendidikan justru membutuhkan ruang waktu yang lebih longgar agar pembentukan karakter tidak terhambat.
Dia mencontohkan sistem berbasis asrama dan pesantren yang dinilai mampu membentuk perilaku siswa karena mereka berada dalam proses pembelajaran sepanjang waktu.
Dalam konteks Jateng yang mayoritas sekolahnya tidak berbasis asrama, ritme enam hari sekolah dianggap lebih relevan. Beban belajar tidak dipadatkan, siswa bisa pulang lebih awal, dan masih punya waktu untuk berinteraksi dengan lingkungan, keluarga, maupun memperdalam pendidikan agama sesuai keyakinan.
Dia menilai model lima hari sekolah selama ini justru memunculkan kekhawatiran dari banyak pihak karena memperberat fisik dan psikologis siswa.



















































