jpnn.com, JAKARTA - Syahwat selalu ada dalam diri manusia, yang termasuk masalah sulit untuk dibereskan.
Kecenderungannya yang bersifat liar sangat susah untuk ditaklukkan. Inilah salah satu hikmah diwajibkannya puasa Ramadan, yaitu melatih diri dalam mengendalikan nafsu termasuk di dalamnya adalah syahwat.
Meski begitu, tidak serta merta syahwat itu tunduk kepada mereka yang berpuasa, karena semakin dikekang ia akan semakin kuat melakukan perlawanan.
Ketika manusia puasa tidak kuat menahannya, maka muncullah retakan-retakan dalam berbagai bentuknya mulai dari keisengan kecil hingga kejahilan besar.
Tentunya puasa sebagai sebuah program pelatihan memiliki treatment tersendiri mengenai hal ini.
Tidak lantas diputus sebagai sebuah kegagalan, tetapi keberhasilan yang belum sempurna.
Contoh yang bisa diterapkan dalam kasus ini ciuman pasangan suami-istri di siang bulan Ramadan bagi mereka yang sedang menunaikan puasa.
Sesungguhnya ciuman bagi mereka yang sedang puasa tidak membatalkan puasa selama tidak disertai syahwat, tetapi secara etika hendaknya dihindari, selain akan mengajak ke langkah lebih lanjut, juga demi menghormati puasa itu sendiri.




















































