jatim.jpnn.com, SURABAYA - Pertumbuhan ekonomi Kota Surabaya yang mencapai 5,87 persen pada 2025 turut mendorong perkembangan industri makanan dan minuman (F&B).
Seiring pertumbuhan tersebut, transaksi digital kini makin menjadi bagian penting dalam operasional bisnis kuliner di Kota Pahlawan.
Data internal PT Esensi Solusi Buana (ESB) menunjukkan basis merchant F&B di Surabaya tumbuh 32 persen dalam setahun terakhir hingga Agustus 2026.
Tidak hanya jumlah merchant, transaksi dari merchant yang sudah beroperasi (same-store) juga mengalami pertumbuhan hampir 10 persen.
ESB mencatat sekitar 78 persen transaksi dari merchant F&B di Surabaya kini dilakukan secara non-tunai.
Pertumbuhan tersebut terjadi di tengah persaingan bisnis kuliner yang semakin ketat.
F&B Educator & Management Consultant Agung Haryadi menilai kondisi tersebut merupakan bagian dari proses seleksi alam yang wajar terjadi di kota metropolitan dengan pertumbuhan ekonomi yang cepat.
"Pasar F&B Surabaya sekarang ini keras. Nyaris tiap ruko kosong menjadi kafe baru, tetapi jumlah konsumennya tidak bertambah secepat itu. Yang bertahan hanya yang punya diferensiasi jelas dan efisien secara operasional, bukan yang sekadar viral sesaat," kata Agung.



















































