Bukan Sekadar Kurang Niat, Ternyata 'Food Noise' Jadi Biang Kerok Obesitas

3 hours ago 21

Bukan Sekadar Kurang Niat, Ternyata 'Food Noise' Jadi Biang Kerok Obesitas

Facebook JPNN.com LinkedIn JPNN.com Whatsapp JPNN.com Telegram JPNN.com

Sekretaris Jenderal Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Gizi Klinik Indonesia (PP PDGKI), dr. Iflan Nauval, M.ScIH, Sp.GK. Foto: source for jpnn

jpnn.com, JAKARTA - Fenomena food noise menjadi tantangan terbesar dalam menurunkan berat badan selain menahan rasa lapar.

Food noise merupakan dorongan pikiran yang mengganggu tentang makanan, bahkan saat tubuh sebenarnya tidak membutuhkan asupan.

Hal ini kini menjadi sorotan dalam diskusi media bertajuk Food Noise Mereda, Berat Badan Terjaga: Bersama Mengubah Paradigma Obesitas yang digelar di Jakarta, Jumat (8/5).

Sekretaris Jenderal Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Gizi Klinik Indonesia (PP PDGKI), dr. Iflan Nauval, M.ScIH, Sp.GK, menjelaskan bahwa obesitas adalah penyakit kronis yang kompleks.

Menurutnya, paradigma penanganan obesitas kini harus bergeser dari sekadar menghitung kalori menjadi memperbaiki biologi tubuh.

"Memahami food noise penting agar kita tidak lagi menyederhanakan obesitas sebagai kegagalan pribadi atau kurangnya disiplin. Tantangannya adalah biologi tubuh yang kompleks," ujar dr. Iflan dikutip JPNN.com, Sabtu (9/5).

Data World Obesity Atlas 2022 menempatkan Indonesia di urutan ke-3 dengan prevalensi obesitas tertinggi di Asia Tenggara.

dr. Iflan menjelaskan fakta food noise yang sering tidak disadari antara lain bukan lapar alami melainkan bisikan pikiran yang intrusif dan persisten.

Fenomena food noise menjadi tantangan terbesar dalam menurunkan berat badan selain menahan rasa lapar.

JPNN.com WhatsApp

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Read Entire Article
| | | |