jpnn.com, JAKARTA - Chief Technology Officer (CTO) Danantara Indonesia Sigit Puji Santosa mengatakan teknologi Indonesia di sejumlah sektor mineral sebenarnya tidak terlalu jauh dibandingkan dengan negara lain.
Menurut dia, selama ini Indonesia banyak mengekspor bahan baku seperti alumina dan aluminium, sementara produk turunannya masih diproduksi di luar negeri.
Dia mencontohkan Indonesia mengolah bauksit menjadi alumina atau aluminium ingot untuk kemudian ekspor ke negara lain seperti Jepang.
Namun, untuk produk ekstrusi aluminium yang digunakan di sektor dirgantara, otomotif hingga pertahanan, Indonesia masih harus menunggu pasokan selama lima hingga enam bulan.
Sigit menilai teknologi untuk mengembangkan produk turunan aluminium maupun baja masih berada dalam jangkauan Indonesia.
“RI punya strategi di mana melakukan strategic partnership. Jadi, kementerian strategis, di mana memiliki share terhadap mineral, you punya teknologi, tapi kalau you gak dapat mineral dari Indonesia, maka enggak bisa jalan,” ucap Sigit dalam keterangannya.
“Kami punya strategic partnership, kami bangun kolaborasi R&D, ajak semua perguruan tinggi," lanjutnya.
Senada dengan itu, Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi/Wakil Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Todotua Pasaribu mengakui kemitraan strategis masih dibutuhkan untuk mempercepat transfer teknologi ke Indonesia.






















































