jpnn.com - Di salah satu sudut ruang tunggu kantor Kementerian Hak Asasi Manusia (HAM), terdapat sebuah pemandangan yang tak lazim bagi sebuah kantor pejabat tinggi negara.
Di atas sebuah rak, terpampang tulisan singkat namun sarat makna: "Datang Kosong, Pulang Kosong."
Narasi ini bukan sekadar hiasan dinding atau kutipan puitis yang gersang.
Bagi sang Menteri, Natalius Pigai, tulisan tersebut adalah sebuah manifesto politik, sebuah pagar moral, sekaligus filter bagi siapa pun yang berniat melintasi pintu ruang kerjanya.
Narasi "Datang Kosong, Pulang Kosong" ini menjadi sangat krusial mengingat posisi Natalius Pigai dalam peta politik pemerintahan Prabowo Subianto.
Sebagai salah satu orang kepercayaan sang Presiden, Pigai memegang peran strategis sebagai "mata dan telinga" Prabowo.
Di pundaknya, mandat untuk menjaga marwah kemanusiaan di republik ini diletakkan.
Namun, di tengah riuhnya kepentingan politik, ruang tunggu menteri sering kali berubah menjadi pasar gelap lobi-lobi transaksional. Tulisan di rak tersebut hadir untuk memutus rantai itu sejak di depan pintu.






















































