jatim.jpnn.com, SURABAYA - Surabaya mencatat deflasi sebesar -0,16 persen pada Januari 2026, baik secara month to month (m-to-m) maupun year to date (y-to-d). Sementara itu, tingkat inflasi year on year (y-on-y) berada di angka 3,54 persen.
Kepala Bagian Perekonomian dan Sumber Daya Alam (BPSDA) Kota Surabaya Vykka Anggradevi Kusuma mengatakan meski terjadi deflasi, Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya tetap waspada terhadap potensi kenaikan harga, terutama menjelang Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri 2026.
“Upaya pengendalian inflasi akan terus kami perkuat agar daya beli masyarakat tetap terjaga,” kata Vykka, Sabtu (7/2).
Berdasarkan data per Januari 2026, komoditas penyumbang inflasi terbesar antara lain emas perhiasan (0,19 persen), nasi dengan lauk (0,03 persen), cumi-cumi, laptop/notebook, dan semangkamasing-masing 0,01 persen.
Sementara penyumbang deflasi terbesar berasal dari angkutan udara (-0,10 persen), cabai rawit (-0,09 persen), daging ayam ras (-0,08 persen), bawang merah (-0,06 persen), dan cabai merah (-0,04 persen).
Selain itu, kelompok pengeluaran perawatan pribadi dan jasa lainnya menjadi kontributor inflasi tertinggi dengan andil 0,19 persen, seiring naiknya harga emas perhiasan. Untuk menjaga stabilitas harga, Pemkot Surabaya menyiapkan sejumlah langkah konkret.
Salah satunya dengan menggelar pasar murah yang berlangsung selama sembilan hari, serta kegiatan serentak pada 25 Februari dan 5 Maret 2026.
Tak hanya itu, Gerakan Pangan Murah (GPM) juga akan dilaksanakan pada 10–13 Februari serta 4–11 Maret 2026.


















































