jpnn.com - JAKARTA - Meninggalnya dr. Myta Aprilia Azmy yang tengah menjalani program internship (magang) di RSUD KH Daud Arif, Kuala Tungkal, Jambi, mengundang sorotan.
Anggota Komisi IX DPR Pulung Agustanto menilai peristiwa itu harus dijadikan pelajaran berharga untuk perbaikan sistem.
Legislator Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) itu menyampaikan dukacitanya atas kepergian Dokter Myta. Namun, Pulung juga mendorong perbaikan dalam melindungi tenaga medis.
“Kejadian ini bukan sekadar berita duka, melainkan alarm keras bahwa ada yang salah dalam manajemen perlindungan tenaga medis kita di mana seorang pekerja kemanusiaan justru kehilangan nyawa akibat beban kerja yang tidak manusiawi,” ujar Pulung melalui layanan pesan, Senin (4//52026).
Dokter Myta merupakan alumna Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Sriwijaya (Unsri), Palembang.
Merujuk pada laporan Ikatan Alumni Fakultas (IKA) FK Unsri, Pulung menyinggung soal dugaan tentang dr. Myta dipaksa bekerja melampaui batas.
Temuan IKA FK Unsri itu didasarkan pada indikasi bahwa dr. Myta bertugas selama tiga bulan berturut-turut tanpa libur di bangsal dan instalasi gawat darurat (IGD) RSUD KH Daud Arif.
Laporan IKA FK Unsri menyebut dr. Myta yang sedang demam tinggi dan sesak napas dengan saturasi oksigen hanya 80 persen tetap diwajibkan menjalani jaga malam.





















.jpeg)
































