jpnn.com, JAKARTA - Ekonom dan Pakar Kebijakan Publik UPN Veteran Jakarta Achmad Nur Hidayat mengatakan harga Pertamax bukan sekadar berapa rupiah yang naik di SPBU.
Menurut dia, lebih dari itu, kenaikan BBM nonsubsidi itu harus dianalisa apakah akan menjadi tekanan terbatas atau justru menjalar menjadi inflasi laten.
“Yang akan terasa di dapur, konsumsi harian, dan beban fiskal negara,” ungkap Achmad Nur Hidayat, di Jakarta, Minggu (14/6).
Mulai 10 Juni 2026, harga Pertamax naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter, atau sekitar 32,1 persen.
Pertamax Green naik dari Rp 12.900 menjadi Rp 17.000 per liter. Sementara itu, Pertalite tetap Rp 10.000 per liter dan Biosolar tetap Rp 6.800 per liter.
Akibatnya, selisih harga Pertamax dan Pertalite melebar tajam dari Rp 2.300 menjadi Rp 6.250 per liter.
“Selisih inilah yang menjadi sumber masalah kebijakan,” jelas Nur Hidayat.
Dia menilai ada tiga hal utama yang menarik. Pertama, apakah dampak inflasi kenaikan Pertamax terbatas karena rantai pasok pangan tidak bergantung pada Pertamax.






















































