Viral Paspor Inggris Anak Dwi Sasetyaningtyas, LPDP Panggil Suami Terkait Dugaan Kewajiban Pengabdian

6 days ago 31
Viral unggahan Dwi Sasetyaningtyas soal paspor Inggris anaknya memicu polemik nasional. LPDP panggil suaminya terkait dugaan kewajiban pengabdian yang belum tuntas. (Instagram/dwi sasetyaningtyas)

KabarJakarta.com – Perbincangan mengenai nasionalisme dan komitmen penerima beasiswa negara kembali mencuat di ruang publik. Kali ini, sorotan mengarah pada Dwi Sasetyaningtyas (DS), alumni Institut Teknologi Bandung sekaligus awardee Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), setelah unggahannya terkait kewarganegaraan anak keduanya viral di media sosial.

Konten yang ia bagikan memperlihatkan momen ketika dirinya membuka paket resmi dari Home Office Inggris. Di dalam paket tersebut terdapat surat yang menyatakan anak keduanya telah resmi menjadi warga negara Inggris, lengkap dengan paspor Inggris yang diterbitkan bersamaan. Unggahan itu kemudian menyebar luas dan menuai beragam respons dari warganet.

Perdebatan tidak hanya berhenti pada keputusan kewarganegaraan sang anak, tetapi juga merembet pada status DS sebagai penerima beasiswa negara. Sebagian publik mempertanyakan komitmen kebangsaan alumni LPDP, sementara lainnya menilai hal tersebut sebagai pilihan pribadi yang berada dalam ranah keluarga.

Unggahan yang Memicu Polemik

Dalam salah satu kontennya, DS mengucapkan pernyataan yang kemudian menjadi sorotan tajam. “Aku tahu dunia terlihat enggak adil. Tapi cukup aku saja yang WNI (warga negara Indonesia), anak-anakku jangan. Kita usahakan anak-anak dengan paspor kuat WNA itu,” kata dia dalam video yang beredar.

Ucapan tersebut dinilai sebagian warganet tidak sensitif dan berpotensi menyinggung identitas kebangsaan. Kritik bermunculan di berbagai platform media sosial. Banyak yang menyayangkan pernyataan tersebut, terlebih karena disampaikan oleh seorang alumni penerima beasiswa yang dibiayai negara.

Meski video itu telah dihapus, diskusi publik terus bergulir. Nama DS pun menjadi trending dan memicu perdebatan yang lebih luas mengenai etika komunikasi di ruang digital.

LPDP Lakukan Pendalaman dan Pemanggilan

Di tengah polemik tersebut, LPDP mengeluarkan pernyataan resmi terkait suami DS, AP, yang juga merupakan alumnus penerima beasiswa. Lembaga itu menyatakan akan melakukan pemanggilan untuk meminta klarifikasi.

“LPDP saat ini melakukan pendalaman internal terkait dugaan tersebut. LPDP akan melakukan pemanggilan kepada Saudara AP untuk meminta klarifikasi,” tulis LPDP melalui akun X resminya, Jumat, 20 Februari 2026.

LPDP menyebut AP diduga belum menyelesaikan kewajiban masa pengabdian di Indonesia setelah menamatkan studi. Sesuai ketentuan yang berlaku, seluruh awardee dan alumni LPDP wajib menjalani masa kontribusi di Indonesia selama dua kali masa studi ditambah satu tahun.

Apabila kewajiban tersebut belum dipenuhi, LPDP menyatakan dapat menjatuhkan sanksi hingga pengembalian seluruh dana beasiswa. Pernyataan resmi ini membuat isu yang semula bersifat personal berkembang menjadi perhatian institusional.

Permohonan Maaf Terbuka

Tak lama setelah videonya viral, DS menyampaikan klarifikasi sekaligus permohonan maaf melalui akun Instagram pribadinya. Dalam sebuah utas, ia menyampaikan penyesalannya atas pernyataan yang telah menimbulkan polemik.

“Saya menyampaikan permohonan maaf secara terbuka kepada seluruh masyarakat yang merasa tersakiti, tersinggung, maupun tidak nyaman atas pernyataan tersebut,” tulis dia.

DS juga menjelaskan latar belakang emosional di balik ucapannya. “Saya menyadari bahwa kekecewaan tersebut tidak seharusnya disampaikan dengan cara yang berpotensi melukai perasaan banyak orang, terlebih berkaitan dengan identitas kebangsaan yang kita junjung bersama,” kata DS.

Ia menyebut pernyataan tersebut lahir dari rasa kecewa, lelah, dan frustrasi pribadinya sebagai WNI. Namun, ia mengakui bahwa cara penyampaiannya tidak tepat dan berdampak luas.***

Read Entire Article
| | | |