jpnn.com - Indonesia mencatat pertumbuhan ekonomi sekitar 5,11 persen pada 2025.
Pendapatan per kapita nasional untuk pertama kalinya menembus US$5.000. Secara statistik, ini tonggak penting. Indonesia makin kokoh di kelompok negara berpenghasilan menengah.
Namun ukuran kemajuan tidak cukup berhenti pada angka agregat. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah apakah pertumbuhan tersebut benar-benar memperkuat daya beli rakyat, terutama kelompok menengah bawah?
Struktur ekonomi kita masih sangat ditopang konsumsi rumah tangga yang menyumbang lebih dari 50 persen Produk Domestik Bruto (PDB).
Artinya, denyut pertumbuhan bergantung pada kemampuan masyarakat membelanjakan pendapatannya. Jika daya beli rapuh, maka fondasi pertumbuhan pun tidak sepenuhnya kokoh.
Data terbaru Badan Pusat Statistik menunjukkan tingkat kemiskinan pada Maret 2025 berada di kisaran 8,47 persen.
Di perkotaan sekitar 6,7 persen, sementara di perdesaan masih di atas 11 persen. Angka ini memang menunjukkan tren penurunan, tetapi kesenjangan desa dan kota masih nyata.
Di sisi lain, rasio ketimpangan atau gini ratio nasional berada di kisaran 0,375.




















































