Garam Bali Sulit Masuk Ritel Gegara Aturan Yodium, Koster: Lucu, Malah Impor!

8 hours ago 19

Rabu, 20 Mei 2026 – 21:55 WIB

 Lucu, Malah Impor! - JPNN.com Bali

Gubernur Bali Wayan Koster mengamati aktivitas petani garam tradisional di Desa Kusumba, Dawan, Klungkung. Dok. JPNN.com

bali.jpnn.com, JIMBARAN - Gubernur Wayan Koster mempromosikan salah satu potensi kelautan yang dimiliki daerah Bali, yaitu garam tradisional.

Koster melontarkan hal tersebut pada Forum Komunikasi Perguruan Tinggi Perikanan dan Kelautan Indonesia (FKPTPKI) di Gedung Widyasabha Universitas Udayana, Bukit Jimbaran, Selasa (19/5) kemarin.

FKPTPKI beranggotakan para akademisi dari 67 universitas di Indonesia.

Koster mengatakan dengan garis pantai sepanjang 630 km dan luas laut mencapai 9.000 km persegi, Bali menyimpan potensi kelautan yang luar biasa.

Selain terkenal dengan hasil tangkapan seperti tuna, tongkol, udang, hingga kerapu, Bali juga memiliki garam tradisional legendaris yang dihasilkan dari pesisir Kusamba (Klungkung), Tejakula (Buleleng), dan Amed (Karangasem).

Menurut Koster, garam Bali yang diolah dengan cara tradisional memiliki taste dan kandungan yang sangat bagus hingga diminati pengelola hotel, bahkan menembus pasar ekspor.

Jeli melihat potensi ini, Gubernur Koster telah menempuh sejumlah langkah untuk melindungi keberadaan garam tradisional sekaligus mendorong pemasarannya.

“Saya sudah urus Indikasi Geografis (IG) atas garam tradisional yang dihasilkan tiga wilayah tersebut agar terlindungi dan mampu mendorong peningkatan kesejahteraan petani garam,” ujar Koster.

Garam lokal Bali dinilai kurang mengandung yodium sehingga belum berlabel Standar Nasional Indonesia (SNI). Kondisi ini mengecewakan Gubernur Wayan Koster

JPNN.com WhatsApp

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com Bali di Google News

Read Entire Article
| | | |