jogja.jpnn.com, YOGYAKARTA - Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) merilis laporan terbaru mengenai aktivitas Gunung Merapi untuk periode pengamatan 24 hingga 30 April 2026. Berdasarkan data yang dihimpun, aktivitas vulkanik gunung api di perbatasan Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta itu terpantau masih cukup tinggi.
Kepala BPPTKG Agus Budi Santoso dalam keterangan resminya mengatakan hingga saat ini status aktivitas Gunung Merapi masih ditetapkan pada tingkat "SIAGA" (Level III).
Aktivitas utama yang mendominasi adalah erupsi efusif yang ditandai dengan pertumbuhan kubah lava serta guguran lava dan awan panas.
"Suplai magma dari dalam masih terus berlangsung. Hal ini ditunjukkan oleh data pemantauan yang dapat memicu terjadinya awan panas guguran sewaktu-waktu di dalam daerah potensi bahaya," ujar Agus Budi Santoso.
Sepanjang pekan ini, Gunung Merapi tercatat mengeluarkan asap putih dengan ketinggian bervariasi antara 25 hingga 425 meter.
BPPTKG mencatat telah terjadi lima kali Awan Panas Guguran (APG) dengan jarak luncur maksimal 1.500 meter yang mengarah ke hulu Kali Boyong dan Kali Sat/Putih.
Selain awan panas, intensitas guguran lava juga masih sangat tinggi. Secara rinci, teramati delapan kali guguran ke hulu Kali Boyong (sejauh 2.000 m), 108 kali ke hulu Kali Krasak (sejauh 2.000 m), 18 kali ke hulu Kali Bebeng (sejauh 1.900 m), dan 105 kali ke hulu Kali Sat/Putih (sejauh 2.000 m).
Dari sisi seismik, jaringan pengamatan mencatat 1.036 kali gempa Guguran (RF), yang menjadi jumlah terbanyak dalam periode ini. Selain itu, terekam 464 gempa Fase Banyak (MP), 21 gempa Vulkanik Dangkal (VTB), serta beberapa gempa Low Frequency dan Tektonik.


















































