jpnn.com - JAKARTA - Kurs rupiah pada Senin (4/5) pagi bergerak datar 0 poin atau 0,00 persen menjadi Rp 17.337 dolar AS, sama dari penutupan sebelumnya di level Rp 17.337 per dolar AS.
Analis mata uang Doo Financial Futures Lukman Leong menilai rupiah berpotensi menguat seiring meredanya kekhawatiran gangguan pasokan global.
"Rupiah berpotensi menguat merespons pernyataan Trump yang akan ‘membebaskan’ kapal-kapal di Selat Hormuz, itu meredakan kekhawatiran gangguan pasokan global, sehingga menekan harga minyak,” ujarnya.
Sentimen lainnya juga dipengaruhi dolar AS yang melemah selama akhir pekan seiring data manufaktur yang di bawah harapan dan intervensi yen terhadap dolar AS.
“BoJ (Bank of Japan) mengintervensi untuk menguatkan yen pada hari Jumat (1/5), menyebabkan indeks dolar AS melorot,” katanya.
Namun, penguatan rupiah diprediksi terbatas seiring investor menantikan data ekonomi Indonesia yang akan dirilis pada hari ini, antara lain data perdagangan dan inflasi.
“Inflasi YoY (year on year) Indonesia diperkirakan akan turun dari 3,48 persen ke 3,0 persen, serta surplus diperkirakan berada di 4 miliar dolar AS,” kata Lukman.
Berdasarkan faktor-faktor tersebut, rupiah diperkirakan berkisar Rp 17.250-Rp 17.400 per dolar AS.





















































