jogja.jpnn.com, YOGYAKARTA - Tren membagikan foto diri menggunakan bingkai digital atau twibbon saat Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) kini menjadi hal lumrah bagi siswa baru. Namun, pengamat keamanan siber memperingatkan bahwa kebiasaan ini menyimpan celah keamanan data pribadi yang serius.
Ketua lembaga riset keamanan siber Communication and Information System Security Research Center (CISSReC) Pratama Persadha menekankan bahwa meskipun tren tersebut memiliki nilai positif dalam membangun kebersamaan, aspek perlindungan data harus tetap diutamakan.
Menurut Pratama, masalah muncul ketika unggahan tersebut menampilkan informasi yang terlalu detail, seperti foto wajah yang jelas, nama lengkap, domisili atau lokasi tempat tinggal, asal sekolah dan identitas spesifik lainnya.
"Informasi yang dibagikan secara terbuka dapat dengan mudah dikumpulkan oleh pelaku kejahatan melalui teknik Open Source Intelligence (OSINT). Teknik ini memungkinkan pelaku menyusun profil digital seseorang tanpa harus meretas akun, hanya dengan mengumpulkan data yang tersebar di internet," jelas Pratama.
Data yang terkumpul secara sukarela tersebut membuka pintu bagi berbagai modus kejahatan siber.
Pelaku dapat menyamar menjadi guru, panitia sekolah, atau teman sekelas dengan informasi dasar yang sudah mereka miliki agar terlihat meyakinkan.
Foto wajah siswa berisiko diambil untuk pembuatan identitas palsu, termasuk manipulasi gambar menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI).
Pelaku dapat memetakan lokasi aktivitas sehari-hari, sekolah, hingga lingkaran pertemanan korban, yang meningkatkan risiko perundungan digital (cyberbullying) hingga pelecehan.



















































