jpnn.com, JAKARTA - Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dinilai justru membuat filsafat dan etika makin relevan.
Meski mampu mengolah data dalam jumlah besar hingga menjelaskan berbagai pemikiran filsafat, AI dinilai belum dapat benar-benar berfilsafat seperti manusia.
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria mengatakan AI dapat mengutip, merangkum, hingga menjelaskan pemikiran para filsuf.
Namun, teknologi tersebut masih memiliki keterbatasan dalam membangun pemikiran secara holistik, mendalam, dan radikal.
Hal itu disampaikan Nezar saat membuka diskusi perdana PhiloConnect yang digelar KAGAMA Filsafat di Rumah Kagama, Jakarta, baru-baru ini.
Mengangkat tema “Dari Data menuju Kebijaksanaan: Berpikir Kritis dan Pengambilan Keputusan di Era AI”, diskusi tersebut membahas hubungan antara perkembangan AI, data, pengambilan keputusan, hingga konsekuensi etis dan sosial yang menyertainya.
Nezar, yang juga Sekretaris Jenderal Pengurus Pusat KAGAMA dan alumnus Fakultas Filsafat UGM angkatan 1990, menjelaskan bahwa perkembangan AI tidak dapat dilepaskan dari data, model, dan algoritma.
Menurut dia, algoritma pada dasarnya mengandung logika yang kemudian dipadukan dengan aritmatika dan matematika tingkat lanjut untuk menghasilkan analisis prediktif maupun probabilitas.






















































