jateng.jpnn.com, SEMARANG - Bunyi seruling terdengar bersahut-sahutan dari sudut Omah Sawah, Desa Ngesrepbalong, Kecamatan Limbangan, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah.
Tiupan nada terdengar belum beraturan, tetapi justru itulah yang menarik perhatian.
Seruling kayu pinus sepanjang sekitar 15 sentimeter itu dibuat secara manual dengan dampingan Tahta Manggala.
Seruling itu dipegang dua jemari, sementara jari lain membuka dan menutup lubang nada hingga lahir bunyi ringan dari rongga tiup.
Kelas membuat seruling tradisional ini menjadi salah satu rangkaian program International Community Development (ICD) yang digelar selama tiga hari terakhir.
Sebanyak 35 mahasiswa dari 15 negara mengikuti kegiatan yang dipusatkan di Omah Sawah, ruang belajar budaya berbasis komunitas di lereng Gunung Ungaran.
Mereka berasal dari Denmark, Filipina, Rwanda, Yaman, Nigeria, Uganda, Ghana, Afganistan, Tanzania, Kenya, Zimbabwe, Gambia, Sierra Leone, Pakistan dan Indonesia
Program ini bukan sekadar pelatihan keterampilan. Peserta diajak hidup bersama warga, merasakan ritme desa, hingga memahami hubungan masyarakat dengan alam.



















































