Ketika Mahasiswa dari 15 Negara Menjadi Anak Desa di Lereng Gunung Ungaran

3 hours ago 18

Senin, 09 Februari 2026 – 16:10 WIB

Ketika Mahasiswa dari 15 Negara Menjadi Anak Desa di Lereng Gunung Ungaran - JPNN.com Jateng

Kelas seruling tradisional oleh Tahta Manggala dalam rangkaian International Community Development (ICD) di Omah Sawah, Desa Ngesrepbalong, Kecamatan Limbangan, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah. FOTO: Wisnu Indra Kusuma/JPNN.com.

jateng.jpnn.com, SEMARANG - Bunyi seruling terdengar bersahut-sahutan dari sudut Omah Sawah, Desa Ngesrepbalong, Kecamatan Limbangan, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah.

Tiupan nada terdengar belum beraturan, tetapi justru itulah yang menarik perhatian.

Seruling kayu pinus sepanjang sekitar 15 sentimeter itu dibuat secara manual dengan dampingan Tahta Manggala.

Seruling itu dipegang dua jemari, sementara jari lain membuka dan menutup lubang nada hingga lahir bunyi ringan dari rongga tiup.

Kelas membuat seruling tradisional ini menjadi salah satu rangkaian program International Community Development (ICD) yang digelar selama tiga hari terakhir.

Sebanyak 35 mahasiswa dari 15 negara mengikuti kegiatan yang dipusatkan di Omah Sawah, ruang belajar budaya berbasis komunitas di lereng Gunung Ungaran.

Mereka berasal dari Denmark, Filipina, Rwanda, Yaman, Nigeria, Uganda, Ghana, Afganistan, Tanzania, Kenya, Zimbabwe, Gambia, Sierra Leone, Pakistan dan Indonesia

Program ini bukan sekadar pelatihan keterampilan. Peserta diajak hidup bersama warga, merasakan ritme desa, hingga memahami hubungan masyarakat dengan alam.

Di lereng Gunung Ungaran, ada sebanyak 35 mahasiswa dari 15 negara menjadi anak desa di lereng Gunung Ungaran.

JPNN.com WhatsApp

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com Jateng di Google News

Read Entire Article
| | | |