jpnn.com, JAKARTA - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) atau modernisasi kilang di Balikpapan digadang-gadang menjadi kunci bagi Indonesia untuk lepas dari ketergantungan impor BBM.
Tak main-main, proyek itu memiliki nilai investasi mencapai 7,4 miliar US Dolar atau setara Rp 123 triliun.
Menurut dia, kilang Balikpapan bukan sekadar tumpukan besi dan pipa, melainkan mesin penyelamat devisa negara.
"Jadi, dengan RDMP ini, kita bisa hemat devisa hingga Rp 60 triliun lebih per tahunnya," ujar Bahlil dikutip dari rilis resmi, pada Selasa (13/1).
Menurut data PT Pertamina (Persero), modernisasi kilang ini dapat menurunkan impor energi sebesar Rp 68 triliun per tahun.
Angka itu terdiri dari penurunan impor bensin sebesar Rp 44,6 triliun, impor solar sebesar Rp 14,9 triliun, impor avtur senilai Rp 5,4 triliun, dan LPG sebesar Rp 2,9 triliun.
Penurunan itu, lanjut Bahlil, bisa terjadi berkat peningkatan kapasitas produksi Kilang Balikpapan yang signifikan pascamodernisasi.
Sebelumnya, kilang ini hanya mampu mengolah minyak mentah sebesar 260 ribu barel per hari, namun kini melompat menjadi 360 ribu barel per hari.






















































