jpnn.com, MALANG - Band pop alternatif asal Malang, Lucien Sunmoon, akhirnya melahirkan album penuh pertama yang bertajuk Nothing Blooms at Midnight.
Setelah proses panjang selama setahun, album berisi 10 track tersebut akhirnya bisa diperdengarkan mulai Februari 2026.
Lucien Sunmoon menyuguhkan sepuluh lagu penuh warna, termasuk 2 single yang telah dirilis terlebih dahulu yakni Slice of Life dan Flustered.
Bercerita tentang polemik terkini yang tengah dihadapi para personel Lucien Sunmoon, album itu mengangkat tema perihal percintaan, pengorbanan, kisah yang tidak terucap, hingga emosi terpendam.
Nothing Blooms at Midnight merupakan sebuah pendewasaan Lucien Sunmoon tidak hanya dari sisi individu dan kehidupan pribadi, namun juga pendewasaan dalam karier perjalanan band dan musikalitas yang lebih matang.
Selain 2 track yang telah dirilis sebelumnya, terdapat 8 track baru lainnya yang direkam sepanjang 2025 seperti Arc of Quiet Bloom, In The Shadow of Our Past, I’m Longing to be With You, 11:12, Lowest, Minuet, Jealousy, What We’ll Never Be, hingga versi akustik dari Memoria.
Lucien Sunmoon mengeklaim Nothing Blooms at Midnight merupakan album penuh berisi 10 track dengan warna dari setiap personel.
Pada album itu, Danang, selaku produser, mengurangi keterlibatan dalam pembuatan lagu. Atas dasar itu, setiap personel menciptakan lagu seperti apa yang diinginkan sendiri, tidak ada urgensi untuk menjadi atau mengejar sesuatu, lahir karena ingin menjadi diri sendiri.




















































