jpnn.com, DILI - Presiden Kelima Republik Indonesia sekaligus Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, mengatakan bahwa hubungan antara Indonesia dan Timor-Leste telah melampaui sekat-sekat konflik masa lalu. Kedua negara, kata dia, kini telah menemukan jalan peradaban baru yang kokoh, yakni mengingat tanpa mendendam dan memaafkan tanpa melupakan.
Pernyataan itu disampaikan Megawati saat memberikan Kuliah Kepresidenan bertajuk Dua Negara Merangkai Cita-Cita Bersama di Dili, Timor-Leste, Kamis. Acara tersebut dihadiri langsung oleh Presiden Timor-Leste Jose Ramos-Horta, Perdana Menteri Xanana Gusmao, serta sejumlah pejabat tinggi setempat.
Di hadapan para pemimpin Timor-Leste, Megawati menyatakan bahwa luka sejarah di antara kedua negara kini telah berhasil diubah menjadi ikatan persaudaraan yang kuat. Menurutnya, hubungan erat ini ditopang oleh keberanian moral dari dua negara yang memang ditakdirkan hidup berdampingan sebagai tetangga yang setara.
Mengawali kuliahnya, Megawati mengenang momen bersejarah 24 tahun lalu, tepatnya pada tengah malam 20 Mei 2002 di Padang Tasitolu, saat ia menghadiri langsung upacara restorasi kemerdekaan Timor-Leste selaku Presiden RI. Ia mengaku menyimpan pergolakan batin saat harus menyaksikan bendera Merah Putih yang dijahit ibundanya, Fatmawati, diturunkan.
Meskipun banyak pihak saat itu mempertanyakan kehadirannya dan menganggapnya sebagai malam perpisahan, Megawati justru memiliki pandangan berbeda.
"Selama 24 tahun saya menyimpan rapat jawaban itu. Peristiwa itu bukanlah tragedi perpisahan. Malam itu menjadi saksi lahirnya Timor-Leste sebagai saudara Indonesia. Itulah makna rekonsiliasi sejati," ujar Megawati yang disambut tepuk tangan hadirin.
Dalam kuliahnya yang berlangsung dinamis, Megawati menyoroti sejumlah isu penting bagi masa depan kedua negara. Soal kepemimpinan perempuan, ia berbagi pengalaman sebagai presiden perempuan pertama Indonesia dan memotivasi kaum perempuan Timor-Leste untuk tidak takut masuk ke ruang pengambilan keputusan.
"Tuhan memberikan kekuatan biologis dan mental yang luar biasa kepada perempuan. Perempuan tidak hanya melahirkan anak manusia, tetapi juga melahirkan dan membesarkan bangsa," tegasnya.






















































