jpnn.com - Apakah pendidikan kita sungguh membebaskan manusia atau justru terjebak dalam rutinitas yang menjauh dari tujuan sejatinya?
Setiap tanggal 2 Mei, bangsa Indonesia memperingati Hari Pendidikan Nasional sebagai momentum refleksi atas perjalanan pendidikan kita.
Momentum ini tidak boleh berhenti pada seremoni, tetapi harus menjadi ruang kejujuran.
Dalam konteks PATRIA PMKRI (yang berlandaskan nilai integritas, solidaritas, profesionalisme, nasionalisme, dan inklusivitas) pendidikan bukan sekadar proses transfer ilmu, melainkan proses pembentukan manusia yang utuh dan berdaya bagi bangsa. Sejauh mana arah ini masih kita jaga?
Pendidikan yang Kehilangan Jiwa
Dalam praktiknya, pendidikan kita semakin terjebak pada orientasi administratif dan pasar. Sekolah dan kampus kerap dipandang sebagai jalur memperoleh ijazah, bukan ruang pembentukan karakter.
Data menunjukkan paradoks ini. Berdasarkan berbagai survei nasional, indeks integritas pendidikan masih menjadi perhatian serius. Kasus kecurangan akademik, plagiarisme, hingga praktik jual-beli nilai bukan lagi isu pinggiran.
Padahal, pendidikan tanpa nilai adalah kehampaan. Dalam terang ajaran Gereja Katolik, pendidikan harus berakar pada martabat manusia. Gravissimum Educationis (Deklarasi tentang Pendidikan Kristen) menegaskan:






















































