jpnn.com - Honda mulai mengubah arah strategi bisnisnya setelah tekanan besar dari proyek kendaraan listrik murni atau battery electric vehicle (BEV).
Pabrikan asal Jepang itu kini memilih kembali mengandalkan teknologi hybrid. sebagai tulang punggung penjualan globalnya.
Keputusan tersebut muncul setelah Honda mencatat kerugian bersih tahunan mencapai ¥423,9 miliar atau sekitar Rp43 triliun. Angka itu menjadi kerugian pertama perusahaan sejak 1957.
Laporan keuangan tersebut sekaligus menjadi sinyal bahwa langkah agresif Honda di sektor mobil listrik belum berjalan sesuai harapan.
Beban terbesar datang dari penghapusan nilai aset hingga ¥1,57 triliun atau setara Rp160 triliun akibat pembatalan sejumlah proyek EV.
Salah satu yang paling menyita perhatian ialah penghentian pembangunan pabrik baterai senilai USD11 miliar di Ontario, Kanada.
Honda juga menghentikan pengembangan beberapa model EV hasil kerja sama dengan General Motors, serta proyek mobil listrik Afeela bersama Sony.
Di tengah kondisi itu, Honda kini memilih jalur yang lebih realistis. Perusahaan menilai pasar hybrid masih jauh lebih stabil, terutama di Amerika Utara yang permintaannya tetap tinggi.






















































