jpnn.com, JAKARTA - Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) mendesak pemerintah menghentikan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Salah satu alasannya karena program prioritas Presiden Prabowo Subianto itu membebani guru.
P2G juga menilai pernyataan kepala Badan Gizi Nasional (BGN) memperkeruh masalah MBG yang terus mengalami keracunan.
"Kepala BGN harus meminta maaf dan mengundurkan diri karena gagal dalam menghentikan keracunan MBG, serta telah meresahkan masyarakat, karena menyalahkan guru, orang tua dan wartawan yang protes dan memberitakan keracunan MBG," kata Kepala Bidang Advokasi Guru P2G Iman Zanatul Haeri dalam keterangannya dikutip Minggu (20/9).
Menurut Iman, yang bermasalah adalah makanan MBG-nya, tetapi guru dan sekolah yang disalahkan. Misal ditengah keracunan MBG, kepala BGN malah mengumpulkan para kepala sekolah untuk literasi gizi.
"Kepala BGN seharusnya intropeksi diri, keracunan MBG disebabkan ada persoalan serius dalam desain kebijakan MBG oleh BGN. Masalahnya di internal BGN dan SPPG, maka salah alamat jika menyalahkan guru dan sekolah. Kenapa guru disalahkan?" ungkap Iman.
P2G juga minta kepala BGN berhenti membuat pernyataan yang membuat gaduh. Misal menyatakan bahwa keracunan MBG diakibatkan masalah politik dan ideologis.
Iman mengatakan selain tidak punya empati kepada korban keracunan MBG, kepala BGN harus bisa menjelaskan, apakah 50 ribu orang keracunan MBG, itu gara-gara masalah ideologi? dan mereka keracunan akibat perbedaan ideologi?
"Sangat mengkhawatirkan jika pejabat selevel kepala BGN, mengumbar sentimen politik ditengah bencana keracunan masal MBG," ucapnya.






















































