Pakar Dorong Pencegahan Kebakaran Gambut Berbasis Sains dan Verifikasi

3 days ago 22

Petugas berupaya memadamkan api di lahan gambut di Desa Rimbo Panjang, Kecamatan Tambang, Kabupaten Kampar. Foto: Source for JPNN.com

jpnn.com, JAKARTA - Pencegahan kebakaran hutan dan lahan pada ekosistem gambut memerlukan pendekatan menyeluruh karena dipengaruhi oleh berbagai faktor teknis dan nonteknis. Setiap kejadian kebakaran juga perlu diverifikasi secara objektif sebelum dikaitkan dengan pihak tertentu atau dinilai memberikan keuntungan ekonomi bagi perusahaan.

Guru Besar IPB University Prof Budi Indra Setiawan mengatakan kebakaran gambut tidak dapat dijelaskan hanya berdasarkan satu faktor. Secara teknis, kebakaran terjadi ketika tersedia sumber panas atau pemicu, bahan bakar, dan oksigen, terutama saat kondisi gambut mengering akibat musim kemarau.

“Kebakaran gambut merupakan persoalan yang kompleks. Penurunan muka air tanah, kondisi cuaca kering, berkurangnya kelembapan gambut, banyaknya bahan bakar di permukaan, kecepatan angin, serta keberadaan sumber api dapat saling berinteraksi dan meningkatkan risiko kebakaran,” kata Budi Indra kepada awak media di Jakarta.

Menurut Budi, gambut yang kehilangan kelembapan akan menjadi mudah terbakar. Api juga dapat merambat di bawah permukaan dan bertahan dalam waktu lama sehingga sulit dideteksi dan dipadamkan hanya melalui pemadaman dari permukaan.

Karena itu, pencegahan secara teknis harus dilakukan dengan menjaga muka air tanah, mengelola kanal dan sekat kanal, menyediakan embung serta sumber air, memantau kelembapan gambut, dan memastikan sarana pemadaman tersedia di wilayah rawan.

Pemantauan cuaca, titik panas, dan kondisi lapangan juga perlu dilakukan secara terpadu melalui citra satelit, sensor muka air tanah, menara pantau, patroli darat, serta penggunaan pesawat nirawak atau drone. Informasi tersebut harus diikuti dengan respons cepat karena api yang masih kecil lebih mudah dikendalikan sebelum meluas.

“Teknologi pemantauan sangat membantu, tetapi data titik panas tetap harus diperiksa langsung di lapangan. Tidak semua titik panas merupakan kebakaran, dan tidak semua kebakaran dapat segera terlihat dari satelit, terutama jika api berada di bawah permukaan gambut,” ujar Budi.

Selain aspek teknis, Prof. Budi menilai pencegahan karhutla juga dipengaruhi aspek nonteknis, seperti perilaku manusia, kebiasaan membuka lahan, keterbatasan alternatif pengolahan lahan tanpa bakar, persoalan penguasaan lahan, konflik tenurial, tingkat kesejahteraan masyarakat, serta koordinasi antarpihak.

Pakar mendorong agar pencegahan kebakaran lahan gambut dilakukan berbasis sains dan verifikasi.

Read Entire Article
| | | |