jpnn.com - JAKARTA - Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya menolak mundur dari jabatannya, meski belakangan muncul desakan agar eks Wantimpres itu meletakkan posisi di organisasi nahdiyin itu.
"Saya diminta mundur, dan saya menolak mundur. Saya menyatakan tidak akan mundur," kata Gus Yahya dalam konferensi pers di kantor PBNU, Jakarta Pusat, Rabu (26/11).
Dia mengaku hanya bisa mundur apabila diberhentikan melalui forum Muktamar PBNU, bukan atas keputusan Rapat Harian Syuriyah organisasi tersebut.
"Saya sebagai mandataris tidak mungkin bisa diberhentikan kecuali melalui muktamar," tutur Gus Yahya.
Belakangan muncul polemik terkait kepemimpinan di PBNU setelah terbit Risalah Rapat Harian Syuriyah pada Kamis lalu (20/11) di Hotel Aston City, Jakarta.
Rapat berlangsung pada 17.00 hingga 20.00 WIB yang dipimpin Rais 'Aam Syuriyah PBNU KH Miftachul Achyar.
Risalah rapat menghasilkan keputusan agar Ketum PBNU KH Yahya Cholil Staquf mundur dari jabatan paling lambat setelah risalah terbit.
Risalah rapat itu juga memuat antisipasi jika Gus Yahya tidak mau mundur sebagaimana tenggat yang ditentukan Syuriyah PBNU.






















































