jpnn.com, JAKARTA - Eskalasi konflik antara Amerika Serikat (AS)-Israel versus Iran telah mengganggu pasokan minyak global serta mendorong kenaikan harga energi dunia.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan kenaikan harga minyak tersebut karena Iran menutup Selat Hormuz yang selama ini menjadi jalur utama distribusi minyak dunia.
"Tentu kalau Iran sudah pasti yang terganggu adalah suplai minyak, dan suplai minyak itu karena Selat Hormuz kan terganggu. Belum juga Red Sea (Laut Merah). Jadi, kami lihat berapa jauh pertempuran ini akan terus berlangsung," ujar Airlangga dikutip Rabu (4/2).
Airlangga mengatakan pemerintah telah mengantisipasi potensi gangguan pasokan dengan mengamankan sumber impor dari luar kawasan Timur Tengah.
Dia menyebut langkah itu antara lain dilakukan melalui nota kesepahaman (MoU) PT Pertamina (Persero) dengan sejumlah perusahaan minyak dan gas asal AS.
"Pertamina sudah bikin MoU dengan Amerika, beberapa dengan Chevron, dengan Exxon, dan yang lain-lain," kata dia.
Airlangga menilai dampak minyak dunia ini sangat bergantung pada durasi dan intensitas perang.
Sebab, selain suplai minyak, sektor logistik dan pariwisata juga berisiko terdampak.














.jpeg)





































