jpnn.com, JAKARTA - Pengamat ekonomi energi Universitas Gadjah Mada Fahmy Radhi menilai ambisi pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) 100 Gigawatt peak (GWp) dalam tiga tahun mustahil dicapai tepat waktu.
Presiden Prabowo Subianto diketahui menargetkan pembangunan infrastruktur energi terbarukan sebesar 100 GWp.
Berdasarkan rencana pemerintah, pembangunan akan dimulai pada 2026 dengan target 30 GWp dan terus berlanjut hingga tahun 2029.
Data hingga April 2026, akumulasi kapasitas terpasang PLTS di Indonesia diketahui baru mencapai sekitar 1,5 GWp.
Indonesia setidaknya harus membangun rata rata 32,82 GWp per tahun untuk mengejar kekurangan kapasitas sebesar 98,5 GWp.
Kemampuan tersebut dinilai terlalu berat jika dibandingkan dengan negara berkembang di Asia yang rata-rata hanya mampu membangun 10 GWp per tahun.
"Target pembangunan PLTS 100 GWp Prabowo dalam tiga tahun tampaknya sangat ambisius, bahkan target itu mustahil dapat dicapai tepat waktu," kata Fahmy dalam keterangan tertulis, Rabu (26/8).
Selain itu, Fahmi menjelaskan industri PLTS merupakan sektor yang bersifat padat modal serta teknologi, sehingga memerlukan kesiapan finansial matang.






















































