Rain Garden di Taman Wisma Angkasa, Cara Baru Jaksel Menahan Genangan

22 hours ago 26
Revitalisasi Taman Wisma Angkasa di Jalan Wijaya II, Kelurahan Pulo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan dilengkapi taman hujan (rain garden), Jakarta, Sabtu (22/8/2026). Foto: Pemprov DKI Jakarta.

KabarJakarta.comHujan deras kerap menjadi tantangan bagi kawasan perkotaan yang dipenuhi bangunan dan permukaan kedap air. Namun, upaya sederhana untuk mengendalikan air hujan kini hadir di Taman Wisma Angkasa, Jalan Wijaya II, Kelurahan Pulo, Kecamatan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Taman hujan atau rain garden yang baru selesai direvitalisasi tersebut diharapkan mampu menjadi salah satu titik resapan air sekaligus mempercantik ruang terbuka hijau di kawasan itu.

Kepala Seksi Taman dan Hutan Kota, Suku Dinas Pertamanan dan Hutan Kota (Tamhut) Jakarta Selatan, Budi Hidayat, menjelaskan keberadaan rain garden tidak hanya ditujukan untuk memperindah taman. Fasilitas tersebut dirancang untuk membantu menampung dan meresapkan air hujan ke dalam tanah.

“Rain garden ini akan membantu mengatasi genangan, meningkatkan resapan air ke dalam tanah, sekaligus menciptakan lanskap yang lebih asri, nyaman, dan ramah lingkungan bagi warga,” kata Budi di Jakarta, Sabtu (22/8).

Taman hujan itu dibuat dengan memadukan fungsi pengendalian air dan penataan lanskap. Area resapan dilengkapi tanaman hias serta bebatuan alami sehingga tidak terlihat seperti fasilitas teknis semata.

Revitalisasi Taman Wisma Angkasa mulai dikerjakan sejak akhir Mei 2026 dan selesai pada Juli 2026. Pekerjaan tersebut dilakukan oleh personel Pasukan Hijau.

Taman yang memiliki luas sekitar 7.900 meter persegi itu kemudian dilengkapi beragam vegetasi yang mampu bertahan di lingkungan dengan kondisi basah atau tergenang. Beberapa tanaman yang ditanam antara lain serai, begonia, melati gambir, alang-alang merah, paku iris, dan papirus.

Keberadaan berbagai jenis tanaman tersebut membuat fungsi taman menjadi lebih beragam. Selain menjadi ruang terbuka hijau, kawasan ini juga diharapkan dapat membantu mengelola air hujan secara alami.

Budi membeberakan pihaknya juga memperhatikan aksesibilitas masyarakat. Jalur pejalan kaki tersedia di dalam kawasan taman dan dilengkapi ubin pemandu untuk membantu mobilitas warga.

“Di taman itu juga ada fasilitas yang ramah bagi pejalan kaki, dan dilengkapi juga dengan ubin pemandu,” ujarnya.

Dengan berbagai fasilitas tersebut, Sudin Tamhut Jakarta Selatan berharap Taman Wisma Angkasa dapat menjalankan fungsi ekologis sekaligus menjadi ruang publik yang nyaman. Rain garden diharapkan mampu bekerja optimal dalam membantu penyerapan air ketika hujan turun.

Namun, fungsi tersebut juga bergantung pada kepedulian masyarakat. Sampah yang dibuang sembarangan dapat menghambat aliran air dan mengganggu sistem resapan yang telah dibangun.

“Pesan kami agar masyarakat juga turut andil menjaganya. Salah satunya adalah dengan tidak membuang sampah sembarangan di lokasi tersebut,” kata Budi.

Bagi warga, perubahan wajah taman tersebut menjadi daya tarik tersendiri. Agnes Anggraini (25), salah seorang warga, mengapresiasi revitalisasi yang dilakukan Sudin Tamhut Jakarta Selatan.

Menurut dia, kehadiran rain garden membuat taman tidak hanya terlihat lebih menarik, tetapi juga memiliki fungsi penting dalam menghadapi persoalan genangan saat hujan.

“Tamannya bagus banget, ada rain garden juga yang membuat semakin indah,” kata Agnes.

Kini, Taman Wisma Angkasa tidak sekadar menjadi ruang hijau di tengah kawasan perkotaan. Dengan rain garden, taman tersebut menjadi contoh bagaimana ruang publik dapat dirancang untuk memiliki manfaat ganda: menjadi tempat yang nyaman bagi warga sekaligus membantu kota menghadapi persoalan air hujan.

Read Entire Article
| | | |