jpnn.com - JAKARTA - Kecerdasan Buatan atau Artificial Intelligence (AI) telah merambah hampir setiap lini kehidupan, mulai dari algoritma media sosial hingga asisten virtual di ponsel pintar.
Fenomena ini membawa tantangan baru bagi dunia pendidikan, yakni bagaimana memastikan anak tidak sekadar menjadi pengguna pasif, melainkan "pemikir digital" yang kritis.
Menjawab tantangan tersebut, Research & Development for Advancement (Redea) Institute yang menaungi HighScope Indonesia Institute menggelar Parent Workshop bertajuk “Membesarkan Pemikir Digital: Membantu Anak Berkembang di Era AI”.
Acara ini menghadirkan Ken Shelton, pakar teknologi pendidikan asal Amerika Serikat dengan pengalaman lebih dari dua dekade.
Penulis buku The Promises and Perils of AI in Education ini menekankan pentingnya pergeseran pola pikir orang tua dan pendidik dalam memandang teknologi.
"Anak-anak kita sedang tumbuh di masa ketika AI sudah menjadi hal biasa mulai dari chatbot hingga sistem personalisasi digital dan generasi mereka akan hidup berdampingan dengan teknologi yang jauh lebih maju dibandingkan yang kita lihat hari ini," kata Ken Shelton, Kamis (20/11).
Dia mengajak orang tua dan pendidik untuk melihat pendidikan AI bukan sebagai ancaman, tetapi sebagai literasi baru yang sama pentingnya dengan baca tulis hitung (calistung).
AI hanya sebagai sarana yang menuntun siswa untuk merumuskan pertanyaan yang tepat dan menggali pengetahuan lebih dalam.






















































