jpnn.com - Sejumlah tokoh lintas agama dan intelektual yang tergabung dalam Gerakan Nurani Bangsa (GNB) bereaksi keras atas meningkatnya ketegangan geopolitik global.
Mereka mengirimkan pesan kebangsaan kepada Presiden dan DPR RI untuk segera mengambil sikap tegas.
Para tokoh ini mendesak pemerintah kembali ke khitah konstitusi dengan memperjuangkan perdamaian dunia melalui prinsip politik luar negeri bebas aktif.
Sederet nama besar berada di balik gerakan ini, mulai dari istri mendiang Gus Dur Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid, cendekiawan muslim M. Quraish Shihab, Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus), hingga tokoh Katolik Ignatius Suharyo dan budayawan Slamet Rahardjo.
Selain itu, turut tergabung dalamnya Bhante Sri Pannyavaro Mahathera, Komaruddin Hidayat, Franz Magnis-Suseno, Alissa Q. Wahid, hingga mantan pimpinan KPK Laode Muhammad Syarif.
Dalam pernyataannya, GNB mengingatkan bahwa Indonesia didirikan untuk berkontribusi pada tatanan dunia yang adil dan damai sesuai Pembukaan UUD 1945.
"Konstitusi kita tegas menyatakan kemerdekaan adalah hak segala bangsa dan penjajahan harus dihapuskan," tulis pernyataan yang diterima JPNN.com, Jumat (6/3).
Kekhawatiran para tokoh ini memuncak menyusul pecahnya konflik bersenjata pada 28 Februari 2028. Kala itu, Amerika Serikat dan Israel dilaporkan menyerang Iran di tengah negosiasi nuklir.





.jpeg)














































