jpnn.com, JAKARTA - Ketua MPP PKS Mulyanto soroti keterlambatan Danantara merilis laporan keuangan 2025.
Mulyanto menilai keterlambatan ini dapat menjadi preseden dan menimbulkan prasangka negatif publik.
"Danantara adalah entitas strategis pengelola aset dan investasi BUMN bernilai lebih dari Rp 15 kuadriliun. Angka yang super fantastis. Jadi, adalah hal yang lumrah bila publik ingin tahu kinerja Danantara ini," kata Mulyanto dikonfirmasi JPNN, Minggu (3/5).
Menurut Mulyanto, publik pun ingin tahu karena Danantara memiliki dua fungsi berbeda, yakni sebagai SWF (sovereign wealth fund) dan Holding BUMN.
Mulyanto mengingatkan prinsip transparansi dan akuntabilitas merupakan fondasi utama dalam pengelolaan keuangan negara yang modern dan terpercaya.
Anggota DPR RI periode 2014-2019 itu menyebut Danantara sebaiknya memprioritaskan keterbukaan informasi sejak awal.
"Praktik internasional yang dijalankan oleh lembaga sejenis, seperti Temasek Holdings, GIC, maupun Khazanah Nasional menunjukkan bahwa transparansi laporan keuangan bukan sekadar kewajiban administratif, melainkan instrumen penting untuk membangun kepercayaan publik dan kredibilitas global,” jelas dia.
Masyarakat memahami bahwa proses konsolidasi dan penataan ulang tata kelola BUMN dalam kerangka Danantara merupakan pekerjaan besar yang kompleks.






















































