jateng.jpnn.com, KABUPATEN SEMARANG - Tingginya kasus kekerasan di Kabupaten Semarang, Jawa Tengah menjadi pembahasan serius dalam Hari Perempuan Internasional atau International Women’s Day (IWD) 2026.
Selama tiga tahun terakhir, tren kekerasan seksual di Kabupaten Semarang terus meningkat. Pada 2023 ada 107 kasus, 2024 ada 126 kasus, dan 2025 sebanyak 158 kasus.
Direktur LBH APIK Semarang Raden Rara Ayu Hermawati Sasongko mengatakan peringatan IWD penting diselenggarakan di berbagai negara, termasuk Indonesia. Menurutnya, perempuan dan anak masih kerap mengalami ketidakadilan, baik dalam proses hukum maupun dalam pelayanan publik.
Dia menjelaskan kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari pengenalan program Arunika, yang diinisiasi Yayasan IPAS Indonesia bersama LBH APIK Semarang.
Program itu bertujuan meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai akses Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi (HKSR), khususnya bagi perempuan di Kabupaten Semarang.
“Melalui peringatan IWD ini kami berharap masyarakat semakin aktif melakukan upaya perlindungan dan pencegahan, serta tidak menormalisasi kekerasan terhadap perempuan,” ujarnya, Selasa (10/3).
Kabupaten Semarang dipilih sebagai lokasi penguatan program Arunika karena daerah tersebut menjadi salah satu wilayah dengan angka kekerasan yang cukup tinggi, tetapi juga memiliki praktik baik dalam penanganannya.
Berdasarkan catatan tahunan LBH APIK Semarang, angka kekerasan terhadap perempuan dan anak pada periode 2016–2025 menunjukkan tren peningkatan. Kabupaten Semarang bahkan menempati peringkat kedua sebagai wilayah dengan kasus tertinggi di Jawa Tengah.



















































