jpnn.com - JAKARTA - Rektor Universitas Terbuka (UT) Prof. Dr. Ali Muktiyanto, S.E., M.Si., menyampaikan apresiasi dan ucapan selamat kepada para wisudawan UT Korea Selatan Tahun 2026. Ali mengatakan wisuda bukan hanya penanda keberhasilan akademik, tetapi juga titik awal bagi para lulusan untuk membuktikan kontribusi nyata di tengah masyarakat. Menurut dia, wisuda memang menjadi satu titik penting bagi mahasiswa untuk melangkah lebih jauh. "Namun, gelar kesarjanaan bukan hanya sebuah gelar, melainkan penanda bahwa alumni siap membuktikan diri,” ujar Rektor UT dalam sambutannya di acara wisuda UT Korsel, Minggu (26/4).
Ali menambahkan bahwa para lulusan UT harus terus meningkatkan kompetensi dan kualifikasi diri. Setelah menyelesaikan studi, lanjut dia, para alumni tidak benar-benar keluar dari komunitas besar UT. Namun, kata dia, mereka justru masuk ke lingkungan lebih luas, yakni keluarga alumni UT yang jumlahnya mencapai sekitar 2,3 juta orang. “Keluar dari komunitas satu juta mahasiswa, masuk ke komunitas alumni 2,3 juta. Jadi, makin berat lagi,” katanya.
Ali juga menyoroti perjuangan mahasiswa UT di luar negeri, khususnya para pekerja migran Indonesia (PMI) yang tetap berupaya melanjutkan pendidikan di tengah kesibukan bekerja. Dia mengaku terharu melihat semangat mahasiswa UT luar negeri yang berjuang membiayai kuliah secara mandiri, mulai dari rupiah demi rupiah hingga won demi won. Menurut dia, perjuangan tersebut bukan sekadar untuk meningkatkan taraf hidup, tetapi juga untuk memutus rantai kemiskinan.
“Teman-teman mahasiswa UT luar negeri ini betul-betul berjuang. Kuliah dengan biaya sendiri untuk menaikkan taraf hidup dan memutus rantai kemiskinan,” ujarnya.
Ali menyatakan keberadaan UT menjadi bukti bahwa negara hadir dalam menyediakan akses pendidikan tinggi bagi seluruh warga negara, termasuk mereka yang tinggal dan bekerja di luar negeri. “Tidak boleh ada lagi warga negara yang komplain bahwa Indonesia tidak menyediakan pendidikan tinggi untuk semua. UT adalah buktinya,” ungkapnya.
Dia menjelaskan berbeda dengan perguruan tinggi tatap muka yang mengharuskan mahasiswa datang ke kampus pada waktu tertentu, UT dirancang untuk mendekatkan layanan pendidikan kepada mahasiswa di mana pun mereka berada. Menurut dia, sistem pendidikan jarak jauh UT memungkinkan siapa pun, termasuk mereka yang sudah bekerja, tetap dapat menempuh pendidikan tinggi tanpa harus meninggalkan pekerjaan, keluarga, atau tempat tinggal.
“Kalau perguruan tinggi tatap muka menuntut mahasiswa datang ke kampus, UT justru mendatangkan kampus ke pintu rumah mahasiswa. UT harus hadir sampai ke relung hati setiap mahasiswa,” kata Ali.
Dalam kesempatan itu, Ali juga mengajak alumni untuk tetap memberikan masukan dan kritik kepada UT. Dia menilai kritik dari mahasiswa dan alumni sangat penting untuk mendorong perbaikan layanan pendidikan. Ali mengaku senang menerima masukan dari mahasiswa luar negeri dalam diskusi yang dilakukan sebelumnya. Menurut dia, institusi pendidikan harus terbuka terhadap kritik agar tidak tertinggal.
















































