jogja.jpnn.com, YOGYAKARTA - Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) bersama BUMDes Mutiara Karangsari menemukan solusi dalam mengubah tumpukan serbuk gergaji dan potongan kayu menjadi barang bernilai ekonomi.
Selama ini limbah kayu tersebut hanya menumpak dibiarkan begitu saja.
Hal itu justru menambah permasalahan sampah yang ada hingga saat ini.
Tim pengabdian UMY yang dipimpin oleh Aris Slamet Widodo memaparkan bahwa limbah kayu memiliki nilai kalor tinggi dan berpotensi sebagai bahan baku energi terbarukan dalam bentuk wood pellet.
"Bahan baku ini melimpah, kontinu, dan selama ini hanya menjadi masalah. Dengan teknologi pencacah dan pencetak pelet, kami mengubahnya menjadi produk yang bisa dijual, baik untuk pasar lokal maupun industri," kata Aris.
Di Desa Karangsari, Kecamatan Sapuran, Kabupaten Wonosobo, limbah dari aktivitas pengolahan kayu mencapai 22 ton per harinya.
Sosiolog yang mengampu mata kuliah Sosiologi Lingkungan, Puji Qomariyah mengatakan limbah kayu selama ini hanya dianggap kotoran industri.
"Wood pellet adalah energi yang bisa diproduksi oleh desa, untuk desa. Ini mengurangi ketergantungan pada energi fosil yang dikendalikan oleh korporasi besar," ujarnya.
Guna mewujudkan itu, BUMDes dianggap sebagai kendaraan yang tepat.



















































