bali.jpnn.com, GIANYAR - Wakil Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Wamendukbangga)/Wakil Kepala BKKBN Isyana Bagoes Oka minta agar pengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) tidak menggunakan produk pangan olahan atau ultra-processed food (UPF).
Alasannya, pangan olahan sudah melalui banyak proses industri.
Oleh karena itu, pemenuhan gizi untuk makanan bergizi gratis (MBG) khususnya kepada kelompok ibu hamil, ibu menyusui dan balita (3B) diharapkan dipenuhi dari bahan pangan segar.
“UPF tidak boleh diberikan kepada balita non-PAUD (pendidikan anak usia dini), ibu hamil dan ibu menyusui dan itu kami tekankan kepada SPPG,” kata Wamen Isyana Bagoes Oka saat meninjau dapur SPPG Celuk II di Desa Celuk, Gianyar.
Wamen Isyana Bagoes Oka memastikan menu yang diberikan kepada sasaran lain seperti para pelajar juga dapat memenuhi gizi di antaranya protein dari daging ayam, buah dan sayur.
Kepala SPPG Celuk II I Gusti Agung Alit Mustika Dwipayana mengatakan setiap hari pihaknya memproduksi 2.719 porsi makanan yang dikerjakan oleh 43 karyawan.
Ia mengeklaim MBG yang diproduksi di SPPG Celuk II menggunakan bahan pangan alami dan tidak menggunakan UPF.
“Kami salurkan kepada dua TK, dua SD, dua SMK dan kepada Posyandu Banjar Celuk,” ujar I Gusti Agung Alit Mustika Dwipayana dilansir dari Antara.

















































