jatim.jpnn.com, SURABAYA - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Surabaya bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkap penyebab banjir dan genangan yang melanda sejumlah wilayah Kota Pahlawan pada Senin (22/6).
Banjir yang terjadi tidak hanya dipicu hujan dengan intensitas sedang hingga lebat, tetapi juga diperparah oleh hambatan aliran air menuju laut saat pasang serta kemungkinan adanya kiriman debit air dari wilayah hulu.
Kepala BPBD Surabaya Irvan Widyanto mengatakan hasil koordinasi dengan BMKG Kelas I Juanda dan BMKG Maritim Tanjung Perak menunjukkan hujan dipicu pola konvergensi atau pertemuan angin yang menyebabkan massa udara lembap naik ke atmosfer dan membentuk awan hujan.
"Kondisi atmosfer yang labil dan lembap dari lapisan bawah hingga menengah mendukung pertumbuhan awan cumulonimbus secara signifikan sehingga menghasilkan hujan dengan intensitas sedang hingga lebat di wilayah Surabaya," kata Irvan, Senin (22/6).
Menurut Irvan, meskipun saat ini Surabaya sudah memasuki musim kemarau, hujan lebat masih berpotensi terjadi akibat pengaruh faktor cuaca lokal.
Dia menjelaskan banjir pada Senin pagi merupakan kombinasi beberapa faktor, yakni tingginya curah hujan, fenomena backwater effect atau hambatan pembuangan air ke laut ketika pasang, serta kemungkinan adanya tambahan debit air dari daerah hulu.
Kondisi tersebut menyebabkan aliran air menuju laut melambat sehingga genangan lebih mudah terbentuk di sejumlah titik.
BPBD juga mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai potensi kenaikan muka air laut pada akhir Juni.
















































