jogja.jpnn.com, YOGYAKARTA - Dunia kembali dikejutkan dengan munculnya wabah Hantavirus strain Andes pada sebuah kapal pesiar yang berlayar dari Argentina menuju Eropa. Berbeda dengan strain hantavirus pada umumnya, jenis ini menjadi sorotan karena kemampuannya menular antarmanusia, memicu respons cepat dari otoritas kesehatan global maupun nasional.
Dalam online talkshow yang digelar FK-KMK Universitas Gadjah Mada (UGM) pada Rabu (13/5), pakar epidemiologi Riris Andono Ahmad menjelaskan bahwa virus ini berasal dari kawasan Pegunungan Andes, Amerika Selatan.
“Dia mampu menyebabkan sindrom paru-paru sehingga dapat menular antarmanusia,” kata Riris, Rabu (13/5).
Hantavirus strain Andes memiliki masa inkubasi antara 4 hingga 42 hari.
Selain melalui kontak dengan tikus (urin, kotoran, atau gigitan), strain Andes dapat menular antarmanusia melalui droplet atau percikan cairan tubuh.
Meski bisa menular antarmanusia, Riris menekankan bahwa mekanismenya tidak semudah Covid-19. Dibutuhkan kontak erat dalam waktu lama agar virus dapat berpindah dari satu individu ke individu lainnya.
Hingga saat ini, wabah di kapal pesiar tersebut tercatat melibatkan delapan kasus infeksi, yaitu enam terkonfirmasi dan dua suspek. Tiga korban dinyatakan meninggal dunia.
Negara-negara seperti Belanda, Inggris, Jerman, hingga Argentina telah melaporkan dampak dari pergerakan penumpang kapal tersebut.



















































