jpnn.com, JAKARTA - Tantangan jangka panjang yang kerap luput dari perhatian saat bencana alam adalah ancaman malnutrisi pada balita.
Menjawab tantangan tersebut, Yayasan Abhipraya Insan Cendekia Indonesia (YAICI) bersama para sukarelawan merespons situasi pascabencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, melalui penyaluran bantuan dan edukasi untuk masyarakat.
Sekjen YAICI, Satria Yudistria mengatakan sepanjang Januari hingga Mei 2026, YAICI telah menjangkau 375 keluarga di tiga wilayah terdampak, seperti Desa Batang Ara, Pematang Durian, dan Desa Serba yang lokasinya terisolasi dan jarang terjamah bantuan logistik.
"Faktanya di lapangan, khususnya di Kampung Batang Ara (Aceh Tamiang) anak bawah tiga tahun (batita) terpaksa mengonsumsi air tajin sebagai pengganti susu,” ucap Satria dalam laporan publik, baru-baru ini.
Menurut dia, anak-anak mengalami trauma psikologis yang tidak kasat mata, mereka ketakutan saat melihat hujan atau air, yang berujung pada terganggunya pola makan mereka.
Satria mengungkapkan anak-anak adalah kelompok paling rentan, bukan hanya saat bencana terjadi, tetapi justru di masa pemulihan ketika bantuan mulai menyusut.
Oleh karena itu, melalui program ini, YAICI bersama mitra menerapkan pendekatan pemulihan yang menyeluruh.
“Mulai dari trauma healing, distribusi mainan anak untuk memulihkan psikososial, diskusi kelompok bersama para ibu, hingga edukasi literasi gizi keluarga,” jelas Satria.





















































