jateng.jpnn.com, SEMARANG - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Tengah mencatat sebanyak 368 kejadian bencana terjadi sepanjang 2025.
Kepala Bidang Kedaruratan BPBD Jawa Tengah Muhamad Chomsul mengatakan dari ratusan peristiwa itu, bencana hidrometeorologi basah masih mendominasi, dengan banjir menjadi bencana terbanyak.
“Sejak 1 Januari hingga akhir 2025, tercatat 368 kejadian bencana. Peristiwa-peristiwa tersebut berdampak nyata, baik korban jiwa, rumah rusak, maupun kerusakan lahan,” kata Chomsul kepada JPNN.com, Jumat (9/1).
Dari total tersebut, banjir menempati peringkat pertama dengan 148 kejadian. Selanjutnya, cuaca ekstrem seperti angin puting beliung tercatat sebanyak 123 kali, dan tanah longsor sebanyak 45 kejadian.
“Tanah longsor meskipun jumlahnya tidak sebanyak banjir, dampaknya sangat signifikan karena korban jiwa cukup banyak diakibatkan oleh bencana ini,” ujarnya.
Selain itu, BPBD juga mencatat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sebanyak 20 kejadian yang mayoritas terjadi saat musim kemarau.
Bencana lain yang terjadi sepanjang 2025, yaitu kekeringan 16 kejadian, kebakaran permukiman 16 kejadian, gempa bumi satu kali, serta satu kejadian kegagalan teknologi.
“Akumulasi dari seluruh bencana tersebut menyebabkan 90 orang meninggal dunia,” ujarnya.



















































