jpnn.com, JAKARTA - Pengamat politik Agus Widjajanto menilai kericuhan yang terjadi dalam dialog bertajuk "Pancasila Pemersatu Bangsa Indonesia" di Universitas Gadjah Mada (UGM) tidak dapat dilepaskan dari kuatnya pengaruh opini yang telah terbentuk sebelumnya di kalangan mahasiswa.
Menurut kandidat doktor hukum dari Universitas Padjadjaran itu, sebagian mahasiswa telah terlanjur menerima framing tertentu yang berkembang melalui film dokumenter Pesta Babi.
Akibatnya, berbagai data dan penjelasan yang disampaikan pemerintah terkait alih fungsi lahan maupun program strategis ketahanan pangan nasional menjadi sulit diterima secara objektif.
“Mahasiswa sudah terlanjur termakan framing yang berkembang. Akibatnya, data sevalid apa pun mengenai alih fungsi lahan dan manfaatnya bagi lumbung pangan nasional menjadi sulit diterima karena yang tersimpan di benak mereka adalah rasa kecewa yang telah terbentuk sebelumnya,” ujar Agus Widjajanto, Selasa (16/6).
Agus menilai akar persoalan sebenarnya bukan semata-mata pada program pemerintah yang diperdebatkan, melainkan pada munculnya persepsi ketidakadilan dalam pelaksanaannya.
Ia menyinggung adanya kasus dugaan korupsi yang terjadi dalam implementasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menurutnya terlihat secara kasat mata di tengah masyarakat dan dinilai berlangsung cukup lama tanpa penanganan yang cepat.
Menurutnya, program yang pada dasarnya memiliki tujuan baik dan manfaat besar bagi masyarakat tersebut akhirnya menghadapi resistensi karena dianggap mengurangi alokasi anggaran pada sektor pendidikan.
“Intinya adalah persoalan ketidakadilan dalam penerapan program. Program yang sebenarnya bermanfaat menjadi dipersepsikan negatif karena muncul anggapan bahwa sebagian dana pendidikan dipangkas, sementara di sisi lain masyarakat melihat adanya praktik korupsi yang tidak segera ditangani secara tegas,” katanya.






















































