jpnn.com, JAKARTA - Tekanan dari pabrikan China kian terasa bagi Honda Motor Co.. Setelah beberapa tahun mencoba merapikan proses lewat sentralisasi, kini Honda justru berbalik arah.
Divisi riset dan pengembangan (R&D) kembali dibuat lebih mandiri—sebuah langkah yang mencerminkan perubahan strategi di tengah persaingan yang makin brutal.
Keputusan itu bukan tanpa alasan. Dalam beberapa tahun terakhir, Honda seperti “babak belur” menghadapi agresivitas produsen China.
Mereka bukan hanya cepat, tetapi juga lincah dalam membaca pasar.
Jika pabrikan Jepang terbiasa mengembangkan model dalam hitungan tahun, rival dari China bisa meluncurkan mobil baru hanya dalam waktu sekitar 18 bulan.
Kondisi itu diakui langsung oleh CEO Honda, Toshihiro Mibe, yang menyebut perusahaannya sulit menandingi kecepatan tersebut.
Dampaknya nyata. Penjualan Honda di China pada 2025 anjlok hingga 24 persen, sejumlah pabrik tak beroperasi optimal, dan rencana peluncuran model baru pun mulai direm.
Tidak hanya di China, Honda juga kewalahan di beberapa negara termasuk Indonesia. Penjualan terus menurun sehingga mitra penjualan mereka pun berguguran.




















































