jpnn.com - CIREBON - Pengasuh Ponpes Kempek Cirebon Kiai Muahmmad Shofi mengatakan bahwa forum Bahtsul Masail para Kiai se-Jawa Barat dan DKI Jakarta di Cirebon beberapa waktu lalu mendorong percepatan muktamar PBNU.
“Para kiai menyuarakan percepatan muktamar, tujuannya agar NU lepas dari jaringan zionisme dan keluar dari lingkaran setan korupsi yang sedang ditangani KPK," kata Kiai Shofi bin Mustofa Aqiel.
Menurutnya, alasan pelaksanaan muktamar harus dipercepat karena berlandaskan pada kaidah fikih, yakni bahwa menolak kerusakan harus diprioritaskan daripada mengambil kemaslahatan.
Kiai Shofi mengatakan kepemimpinan PBNU saat ini tidak lagi efektif, karena terindikasi melakukan tata kelola keuangan organisasi yang tidak sesuai syariat dan Undang-Undang.
"Saat ini ada dua Ketum, yaitu KH. Zulfa Musthofa PJ Ketum PBNU menggantikan Gus Yahya dan Gus Yahya sendiri. Kalau ini terus dibiarkan, maka ini tidak sehat bagi keberlangsungan organisasi,” ujar Kiai Shofi.
"Intinya, PBNU sebagai sebuah organisasi perlu direset ulang, dengan diisi oleh orang-orang yang memiliki kredibilitas, kapabilitas, integritas, moralitas, dan kapasitas keulamaan,” imbuhnya.
Dalam forum Bahtsul Masail di Pondok Pesantren Kempek Cirebon, para kiai mendukung kepada Rois Aam sebagai pimpinan tertinggi PBNU beserta jajaran Suriyah untuk sesegera mungkin untuk menggelar muktamar.
"Para kiai juga merekomendasikan kriteria kepemimpinan ulama yang ideal ke depan bagi PBNU, yaitu sosok yang memiliki otoritas keilmuan, wawasan dan pengetahuan yang luas, baik pengetahuan agama (faqih) maupun pengetahuan umum, termasuk pengetahuan berorganisasi; otoritas spiritual dan akhlak mulia yang bisa menjadi teladan; zuhud (asketis) alias tidak hubbu ad-dunnya (cinta dunia) dan hubbu al-jah (ambisi jabatan) sebagai ciri ulama su (ulama buruk),” ujar Kiai Shofi. (*/jpnn)






















































