jogja.jpnn.com, YOGYAKARTA - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengimbau warga Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) untuk bersiap menghadapi musim kemarau 2026. Berbeda dengan tahun sebelumnya, kemarau kali ini diprediksi akan jauh lebih kering dengan curah hujan di bawah normal.
Kepala Stasiun Klimatologi DIY Reni Kraningtyas mengatakan sebagian besar wilayah DIY akan mulai memasuki awal musim kemarau pada Dasarian III April 2026.
Penyebab utama kondisi yang lebih gersang ini adalah adanya indikasi fenomena El Nino lemah yang diprediksi muncul pada pertengahan hingga akhir tahun.
"Sifat musim kemarau 2026 di wilayah DIY umumnya bawah normal. Artinya, hujannya lebih sedikit daripada rata-rata klimatologisnya atau lebih kering dari biasanya," ungkap Reni di Yogyakarta, Rabu (11/3/2026).
Musim kemarau di Jogja diperkirakan bakal terjadi pada akhir April hingga awal Mei 2026.
Puncak kemarau diprediksi jatuh pada Agustus 2026. Berlangsung selama 19 hingga 21 dasarian atau sekitar 6,5 sampai 7 bulan.
BMKG memprediksi musim kemarau baru berakhir pada dasarian I November 2026.
Meski segera memasuki musim kering, BMKG mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada selama masa pancaroba (peralihan) pada Maret hingga April.



















































