jogja.jpnn.com, YOGYAKARTA - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini terkait potensi musim kemarau 2026 yang diprediksi akan tiba lebih awal dan berlangsung lebih lama. Kondisi ini diperkirakan akan berdampak signifikan pada sektor pertanian di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan sekitarnya.
Kepala Stasiun Klimatologi DIY Reni Kraningtyas menjelaskan bahwa sebagian besar wilayah DIY akan mulai memasuki awal musim kemarau pada Dasarian III April 2026.
Berbeda dengan tahun sebelumnya, kemarau kali ini dipicu oleh indikasi fenomena El Nino lemah yang diprediksi muncul pada pertengahan hingga akhir tahun.
"Sifat musim kemarau 2026 di wilayah DIY umumnya bawah normal. Artinya, hujannya lebih sedikit daripada rata-rata klimatologisnya atau lebih kering dari biasanya," ungkap Reni di Yogyakarta, Rabu (11/3).
Puncak kemarau diprediksi jatuh pada Agustus 2026 dengan durasi mencapai 6,5 hingga 7 bulan, dan baru diperkirakan berakhir pada Dasarian I November 2026.
Menanggapi prediksi tersebut, Pakar Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM) Prof Bayu Dwi Apri Nugroho menekankan pentingnya adaptasi bagi para pelaku sektor pertanian.
Menurutnya, tanpa langkah mitigasi yang tepat, kemarau panjang berisiko tinggi menyebabkan gagal tanam dan gagal panen yang berujung pada penurunan produksi pangan.
"Petani dan penyuluh menjadi kunci sukses di level bawah dalam menghadapi kemarau yang panjang," ujar Bayu, Selasa (10/3).



















































