jpnn.com, JAKARTA - Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti mengatakan bahwa pelemahan nilai tukar tidak hanya terjadi di Indonesia.
Melainkan kata dia, juga beberapa negara tetangga. Namun, pelemahan rupiah belakangan memang lebih dalam terutama karena adanya persepsi pasar.
“Oleh karena itu, kita memang perlu membalikkan persepsi itu dan menunjukkan bahwa sejauh ini kita masih relatif aman. Cadangan devisa kita juga masih sangat kuat di USD 156 miliar dolar,” katanya dikutip Kamis (22/1).
Di samping intervensi yang dilakukan, Destry menambahkan bahwa bank sentral Indonesia juga mengoptimalkan operasi moneter yang dimiliki, baik itu melalui pemanfaatan SRBI, jalur suku bunga, maupun mengupayakan aset rupiah menjadi lebih atraktif dengan imbal hasil yang lebih menarik.
Dia juga menyampaikan, BI terus memperkuat pemanfaatan local currency transaction (LCT).
Sepanjang Januari-Desember 2025, catat dia, volume transaksi LCT meningkat signifikan.
Pada akhir Desember 2025, nilai transaksi LCT tercatat mencapai USD 25,66 miliar, meningkat tajam dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar USD 12,5 miliar dolar pada 2024.
Peningkatan penggunaan mata uang lokal selain USD tersebut menjadi salah satu strategi BI untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar.






















































