jpnn.com - Di hadapan elite ekonomi dan politik global di Forum Ekonomi Dunia Davos, Presiden Prabowo Subianto menampilkan Indonesia dengan langkah penuh keyakinan menuju masa depan.
Dalam latar dunia yang tercabik konflik dan saling curiga, ia memproyeksikan bangsanya bukan sekadar sebagai oasis stabilitas, melainkan juga sebagai motor dinamis peluang-sebuah kemajuan yang dibangun di atas fondasi kebijakan terencana dan persatuan nasional.
Namun, narasi gemilang tentang capaian dalam negeri itu segera akan berubah menjadi babak pembuka bagi ujian kebijakan luar negeri paling rumit dan paling diawasi dalam satu generasi.
Pidato Presiden Prabowo menjadi semacam kuliah kelas internasional dalam menyambung tata kelola dan geopolitik.
Ia membuka dengan menancapkan kredibilitas Indonesia pada fundamental ekonomi: pertumbuhan di atas 5 persen, inflasi terkendali di angka 2 persen, serta defisit fiskal yang berdisiplin di bawah 3 persen dari PDB.
Pengakuan internasional sebagai titik terang global, tegasnya, adalah hasil jerih payah, bukan pemberian-sebuah ganjaran atas ketahanan dan kebijakan yang terukur di tengah dunia yang bergolak.
Namun, pesan utamanya melampaui angka. Prabowo merumuskan filosofi pemerintahan yang menempatkan perdamaian dan stabilitas sebagai prestasi aktif, lahir dari pilihan nasional yang terus-menerus untuk “bersatu di atas pecah, bersahabat dan bekerja sama di atas konfrontasi.”
Kohesi internal ini, menurutnya, adalah aset strategis terbesar Indonesia dan sumber kredibilitasnya yang tak tergoyahkan-terbukti dari catatan berdaulat yang tak pernah gagal bayar utang, di mana setiap pemerintahan menghormati komitmen pendahulunya.






















































